Showing posts with label Open mind. Show all posts
Showing posts with label Open mind. Show all posts

Kepala kepala anda, nyawa nyawa anda

Senin kemaren sy pulang kerja gak begitu malem. Tumbenan, biasanya pulang malem2. Nah... saya gak akan bahas kerja, bahas pulang malem apalagi mbahas kue tumben...

Laper... haus... begitu nyampe di asrama, sy langsung ajak Mbah ke Giras. Sekalian menuhin kekangenan Mbah sama Imron/Jamil/Ghofar hehe. Keluar dari pintu asrama kemudian belok kanan lalu kiri mengikuti arus, sy memasuki jalan milik IZZ. Konon "katanya" jalan raya ini adalah jalan pribadi IZZ, so polisi ga bisa nilang kita di kawasan ini.

Sy putar balik, dan lurus tancap gas... sampe kita di bunderan IZZ bagian timur. Disitu ada 1 pos polisi. Biasanya ada satu mobil/motor polisi dan satu dua orang polisi di dalam. Kebiasaan para mahasiswa seliweran di depan pos itu ga pakek helm, karena dalam otak cerdas para mahasiswa itu ada maklumat dari si "katanya" tadi bahwa disitu ga perlu pake helm gapapa.

Nah.. pas sy sama mbah sampe deket pos tadi, eh... ada 5 polisi menghadang kita dengan formasi kura2nya. Sial pikir saya, bakal kehilangan satu tanda tangan berharga sy kali ini (maap hehe ngigau bisa juga terjadi saat ngetik). Di-stop-lah kita.....

And here conversation begin :
S : Saya, M : Mbah, P : Polisi, IZZ : Kampus saya

P : Ehm ehm maaf Mas, rambunya ga keliatan?
S : Kan... ga ada yang liat Pak hehe

-------------------- bukan yang tadi... itu iklan --------------------

P : "Mas, tinggal dimana?"
M : "Dekat situ pak, asrama"
P : "Kamu Mahasiswa?"
S & M : "Iya Pak, IZZ situ"
P : "Semester berapa?"
S : "Semester akhir"
P : "Menurut kamu ada gitu yang mengatakan kalo Mahasiswa boleh melanggar peraturan lalu-lintas?"
M : "Gak Pak, tapi katanya ....." belum sempat saya lanjutin, langsung dipotong ma Pak Polisi
P : "Katanya katanya!!! Jangan katanya katanya"
S : "Tapi ini kan jalanan pribadi IZZ"
P : "Trus yang lewat semua orang IZZ??"
S : "Ya nggak Pak, ini jalan pribadi IZZ tapi dibuka untuk umum"

P : "Kamu tinggal dimana?"
M : "Deket situ Pak, asrama"
P : "Enggak, maksud saya kamu tinggal di Indonesia kan?"
S : "Iya Pak"
P : "Hukum diterapkan untuk siapa?"
S : "Untuk orang Indonesia Pak"
P : "Siapa yang bertugas menegakkan hukum?"
S : "Ya penegak hukum Pak"
P : "Ya penegak hukum itu siapa?"
S : "Polisi Pak"
P : "Saya ini apa?"
S : "Polisi Pak"
P : "Jadi saya yang bertugas menegakkan hukum"
S : "Iya Pak"
P : "Ya sudah sana! Kamu itu ngomongnya udah kayak bukan Mahasiswa"
S : "Makasih Pak"
P : "Nah... gitu bagus"
S : "Monggo Pak"
P : "Ya"

Capcusssss, kasian mbah udah kangen ma Imron. Cepet2 sy larikan Mbah dan diri saya ke giras untuk pertolongan pertama pada kelaparan dan kehausan.

Geli, bercampur emosi, campur cape, menyatu padu. Sejenak saya sadar. Itu tadi cuman sosialisasi Pak Polisi, buktinya saya ga ditilang.

Mentang2 saya Mahasiswa dan mentang2 saya lewat jalanan pribadi kampus, lantas saya ga pake helm. Trus emang kalo saya jatuh di kawasan kampus beda sama kalo saya jatuh di tempat lain? Aspalnya sama, kendaraan yang lewat sama. Kalo ketabrak mobil, remuknya juga sama orang bemper yang nyosor juga sama.

Kesadaran sy untuk mentaati peraturan masih kurang. Keselamatan saya anggap tidak lebih berharga dari ketakutan saya pada polisi. Kepala saya anggap tidak lebih berat dan berharga dari helm saya. Helm juga ga berat. Wah wah wah harus belajar lagi Matematika dan Dasar Pemrograman nih (lhah.... tidur...)

Mendapatkan dan Kehilangan

Dulu saya pernah kehilangan sebuah semangat dan kepercayaan diri hingga saya telat (sangat telat malah) menyelesaikan Tugas Akhir saya. Sekitar 2 minggu yang lalu saya kehilangan partner kerja sehingga pekerjaan ini mungkin akan selesai dalam waktu yang lebih lama. Kemarin saya kehilangan sebuah field dari sebuah tabel sekaligus semua data di dalamnya... heh hoh heh kehilangan yang satu ini benar2 aneh. Salah satu teman saya juga baru saja kehilangan permata paling berharga dalam hidupnya. Teman sekamar juga kehilangan sebuah ketenangan hidupnya karena suatu-hal-yang-saya-tidak-bisa-ceritakan.

Sepertinya kita gak akan lepas dari kehilangan. Kehilangan harta, kehilangan kekasih hati, kehilangan orang tua, kehilangan harga diri mungkin, kehilangan kesempatan dan lain sebagainya.

Tapi kita juga gak akan selamanya kehilangan, kadang kita juga "mendapatkan". Mendapatkan kebahagiaan, mendapat rezeki, mendapat tautan hati, mendapat peluang, mendapat solusi dan sebagainya.

Berarti mendapatkan dan kehilangan adalah sesuatu yang pasti terjadi, sebagaimana kebaikan dan keburukan, sebagaimana tangis dan tawa, sama halnya menghirup dan menghembuskan napas. Lantas apa yang perlu dirisaukan dari sesuatu yang pasti terjadi??

Mungkin kita kehilangan karena sesuatu itu bukan hak kita, atau mungkin kita dituntut untuk mendapatkannya kembali agar kita lebih menghargai apa yang kita punya, atau barangkali kita berhak untuk sesuatu yang lebih baik dari itu. Yang jelas saat kehilangan, kita mengambil sebanyak mungkin apa yang bisa kita peroleh dari kehilangan itu. Orang biasa menyebutnya Hikmah.

Saat saya telat lulus, saya jadi sadar dan tau rasanya berada dibawah (atau bahkan di paling bawah) ketika sebelumnya saya selalu merasakan posisi atas. Saya jadi tau rasanya kegagalan yang sangat, sehingga saya tau cara menghadapi orang yang mengalami kegagalan. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran saya, "Kadang sesekali kegagalan itu perlu agar kamu tau nikmatnya keberhasilan". Sekali lagi, intinya adalah mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari keburukan yang sedang menimpa kita sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga yang tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah, bahkan di Universitas Terbaik sekalipun.

Note :
Buat my friend yang sedang kehilangan. Sorry, saya tidak akan berpura-pura bersedih dan simpati atas kesedihan yang menimpamu. Karena saya yakin kamu tidak membutuhkan kesedihanku, dan kesedihanku pun tidak akan menyelesaikan masalahmu. Jadi jangan heran kalo saya tertawa saat kau ceritakan kesedihanmu. Itu juga respon yang saya berikan ke orang lain yang menceritakan kesedihannya padaku.

Mereka lebih membutuhkan senyuman dan canda tawa daripada ekspresi suram saya. Wong saya ekspresi normal aja sudah suram, gimana kalo dibuat suram lagi???

Wassalam :)

Menunggu itu membosankan! (ah.. masa?)

Banyak orang mengatakan kalau menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Hmm... bisa ya... bisa tidak... Yang jelas ada yang sepakat dan ada yang tidak sepakat.

Eleh... wes tudepoin aja yah. Sekarang saya lagi ada di luar ruangan kerja saya. Kebetulah saya ga bawa kunci jadi jadi jadi sejak dari 33 menit yang lalu saya disini menunggu. 33 menit yang lalu hingga saya menulis post ini, menunggu saya artikan sebagai sesuatu yang membosankan. Tapi setelah saya bisa memanfaatkan waktu menunggu itu (ngeblog kek, menyapa temen di fesbuk kek, tidur2an kek) saya berubah pikiran, dan ternyata menunggu itu menyenangkan.

Sekarang kita alihkan cerita kepada orang lain... sebut saja dia Bunga (nama samaran: red) ... jangan.. dia cowok, so sebut saja di Fulan. Si Fulan adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan multinasional yang elit kecil yang baru berkembang. Suatu ketika si Fulan ini tiba2 resign dari pekerjaannya di perusahaan itu.

Ada apa gerangan si Fulan ini resign?? Gak ada hujan ga ada angin ga ada Agnes Monica... kok tiba2 keluar. Hati saya waktu itu hancur berkeping-keping luluh lantak berserakan (heh heh mas... jam segini kok ngigau...) Usut punya usut, cek n' ricek ternyata si do'i punya beberapa alasan. Begini ceritanya....
1. Dia ga suka sama bosnya (ya eyalah lha wong bosnya cowok hehe.... yang jelas bukan ini alasannya)
2. Dia melihat bahwa konsep yang disusun oleh Pimpro nya kurang matang. Jadi pas si do'i tanya ke pimpronya tentang salah satu hal, si pimpro bilang kalo dia belum bikin konsepnya.
3. Dan alasan2 lainnya yang mendukung dia untuk resign.
Dan resignlah dia dengan selamat tanpa halangan yang berarti. Selamat jalan kawan... semoga amalmu diterima di sisi-Nya... Amiiinnnn T_T

Siangnya saya ngomong2 sama si Pimpro.... tapi ga nyinggung soal alasan si Fulan resign BLASS!!! Eh tanpa disangka-sangka si Pimpro bilang gini, "Sayang banget si Fulan resign, padahal gw ga terlalu nge-push dia." Kemudian dilanjutkan dengan ini, "Ketika dia tanya soal ini itu, gw bilang ke dia BENTAR DULU GW BELUM BIKIN KONSEPNYA, biar dia fokus ke itu aja dulu, biar nyante kerjanya. Sebenernya gw udah siap semua konsepnya." Dang!

Besok paginya saya dateng trus ngobrol sama si Bos.... Kemudian si Bos cerita soal ini itu menanggapi keluhan si Fulan... Dan waw!!! ternyata yang menjadi alasan si Fulan resign ini mentah... (minimal menurut saya). But I appreciated your decision Brader!

~~~

Kalo saya boleh berpendapat, apa yang sebenarnya dibutuhkan si Fulan ini adalah kesabaran untuk MENUNGGU. Tanpa buru2 mmbuat keputusan, dia lebih baik menggali dan mencari cerita selengkapnya. Tidak seperti orang buta ketika memegang telinga gajah, dia lantas bilang "Gajah itu tipis".

~~

Dari sini saya mengambil pelajaran yang sungguh berharga. Jangan pernah mengambil keputusan ketika kondisi emosi sedang tinggi dan ketika berbagai pembenaran muncul.

~~

Nah sekarang yang bawa kunci udah dateng, kerja!!!! Wassalam :D

It's real life, not a movie

Sewaktu kecil saya seringkali berkhayal dan membayangkan bahwa hidup ini ibarat sebuah sinetron. Layaknya dalam sebuah cerita, di sinetron selalu ada pemeran utama, pemeran figuran, protagonis, antagonis dsb.

Lalu rohmat kecil bertanya, siapa sih pemeran utama dalam kehidupan nyata ini? Haha what a silly question... wajar lah kan masih kecil. Lalu saat itu saya pun menyimpulkan bahwa saya lah pemeran utama dari cerita kehidupan ini. Saya juga adalah tokoh protagonis. Sehingga saya beranggapan bahwa semua cerita harus berpusat ke saya dan saya lah yang benar.

Fikiran itu kini muncul lagi di usia saya yang sudah berkepala dua. Haha silly, isn't it? Kalo saya menganggap saya adalah pemeran utama, maka orang lain juga pasti menganggap dirinya adalah pemeran utama. Lah kalo semua orang jadi pemeran utama, repot dong!

Setiap orang ingin menjadi pemeran utama atas cerita kehidupannya. Ketika permasalahan muncul, setiap orang akan mencari pembenaran untuk dirinya sendiri. Saat seseorang mengalami konflik dengan seseorang yang lain, masing2 akan mencari pendukung yang mau mengatakan bahwa dirinya benar dalam kasus ini, kasus itu dst. Entah itu teman, keluarga, kerabat, tetangga dll.

Dengan begitu, pasti si Fulan yang punya masalah dengan kita adalah tokoh antagonis yang serba buruk. Si Fulan pun menganggap kita sama sebagaimana kita menganggap si Fulan. Jadi, yang bener siapa dong??

Akan sulit ditemukan penyelesaian permasalahan jika yang kita cari adalah siapa yang benar dan siapa yang salah. Gimana gak sulit, wong yang dicari bukan solusi tapi pembenaran. Toh setelah diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah, masalah belum tentu selesai. Tambah lagi, pasti ada salah satu yang sakit hati.

NB : Benar salah di sini adalah benar salah dalam hal anggapan. Mengenai kebenaran dalam sisi agama atau keyakinan, saya lebih memilih bersikukuh dengan kebenaran itu tanpa dikompromikan.

Lubang hidungku ada dua, punyamu juga dua

Rapat kedua dengan user membahas requirement project dengan salah satu perusahaan di Surabaya. Ini adalah project kedua setelah project yang sedang kami kerjakan ~dan sudah memasuki tahap implementasi~ di softwarehouse yang sekarang. Rapat berjalan cukup lancar dari jam dua siang sampai sekitar jam setengah lima sorean. Dan pulanglah kita sambil mampir ke salah satu warung soto terkenal di Surabaya ~tapi saya ga ingat namanya hehe~. Si bos yang rumahnya berada antara perusahaan tempat meeting dengan lokasi kerja saya tiba2 nge-drop kita ~yang waktu itu ada saya dan pimpro~ di sekitar rumahnya karena beliau kena migrain. Walhasil kita dikasi duit buat naik taksi sampe tempat kerja... wowhowhwohwo girangnya hatiku karena sebagai orang kampung, ini pertama kalinya saya naik taksi. Katrok sih hehe, tapi kebahagiaan itu kan bukan dari wujudnya, tapi dari cara mensyukurinya ~cieeehh tumben saya ngomong bener~.

Kebetulan kita diturunin pas tempat mangkal taksi, naik lah kita dan capcay ~kayak nama makanan~. Kita ngobrol dengerin sopir taksi bercerita tentang macem2. Mulai dari beliau bilang kalo memiliki harta itu harus diinfakkan biar berkah dan enak dimakan, biar ga nimbulin penyakit. Habis itu beliau cerita kalo beliau pernah dicurhatin sama seorang pimpinan salah satu perguruan tinggi terkenal di Surabaya. Sambil menangis si pimpinan bercerita mengenai susahnya menjadi pemimpin yang mengajak staffnya tidak korup, tapi malah dianya dijauhi dan tidak dihormati ~hmm hmm angguk angguk geleng geleng~. Pikir gw saya saat itu, "Gila bijak banget ni sopir taksi, salut BOSS!!!", sampe sesaat kemudian di perempatan lampu merah Panjangjiwo, ada sebuah mobil pickup/box kecil membawa kardus2 bekas dan rongsokan2 laiinya ~agak overload sih~ mogok. Ada dua polisi dorong tu mobil sampe pinggir ~gg nih pak polisi, like this!~.

Sesaat setelah saya Like this momen itu, pak kusir sopir taksi mulai ngasi comment ~versi aslinya pake bahasa jawa~ yang intinya gini, "Nah lo mogok, emang dasar Madura ya kayak gitu. Liat aja, abis itu pasti rongsokannya ditumpuk-tumpuk sampe ngganggu tetangganya. Pernah tu mas, mobilnya nyantol kabel listrik trus dianya ga mau bertanggungjawab". Sontak dalam hati saya, "Oh Mai Jod Masya Alloh gile ni orang, gile segile-gilenye". Saya tiba2 tersadar dari anggapan naif saya bahwa didunia ini sudah tidak ada rasisme. Tulisan2 kisah mengenai rasisme di forum2 itu ternyata benar adanya, rasisme masih merajalela ~lebih dari sekedar ada~. Label "RASIS" makin melekat di sosok si supir taksi setelah beliau melanjutkan ceritanya mengenai orang batak, ambon, dll dll dll. For God Shake!!! Apa yang salah dengan mereka???

Jika kita menyalahkan orang karena dia melakukan pencurian, pembunuhan, perampokan, kenakalan, brutal dan berbagai tindakan buruk lainnya, itu sah2 saja. Artinya kita menyalahkan orang karena hasil perbuatannya. Lalu pantaskah kita menyalahkan orang mengenai sesuatu yang bukan menjadi pilihannya untuk melakukan atau tidak melakukannya???. Ya... mereka tidak pernah memilih dilahirkan di makasar ataupun medan yang menjadikan karakter meraka 'keras', mereka juga tidak pernah memilih dilahirkan di Surabaya yang menjadikan kata2 mereka kasar ~meski kata Si Ikin, hati mereka tetap lembut walau kata2nya kasar~. Mereka yang keturunan Cina juga tidak memilih, tidak request pada Alloh untuk diciptakan sebagai orang Cina yang mewarisi sifat ulet dan pelit cermat dalam mengatur pengeluaran.

Kalo saya disuruh memilih, maka saya ~sebagai orang jawa~ lebih memilih mengagumi orang Madura dengan kegigihannya dan orang China dengan ketelitiannya. Tapi dengan demikian, saya juga akan menjadi orang yang rasis, tidak jauh beda dengan 'mereka' yang rasis. Cuman bedanya mereka rasis dengan merendahkan, saya rasis dengan meninggikan dan mengagungkan.

Jadi saya lebih memilih untuk menilai orang sebagai "manusia" yang setiap orang di dunia ini memiliki bentuk yang sama. Sama2 memiliki dua tangan, dua kaki, dua mata, dua sisi ~baik dan buruk~, dua telingan bersama dua lubangnya, dua lubang hidung, dua sisi otak, dan kesamaan2 lainnya. Semua memiliki potensi untuk menjadi baik ataupun buruk. Mungkin rasisme hanyalah sebuah kecemburuan sosial karena pihak pendatang lebih sukses dibanding pihak lokal. Padahal pihak pendatang juga tidak merasa dirinya sebagai pendatang, mereka juga sudah menyatu padu dengan tempat mereka hidup. So.. masihkan ada bedanya soal asal muasal???

Seperti dalam film My Name Is Khan, "Di dunia ini tidak ada Hindu dan Muslim, yang ada adalah orang baik dan orang jahat". Kecuali soal akhirat, biar Alloh yang menilai :D

NB : Kalo ga ada mereka para pengumpul rongsokan dan kardus bekas, mungkin LPA Dinoyo sudah tidak mampu menampung sampah dari kita saya yang menhasilkan sampah tanpa kontrol.

Mom, I LOVE U really really deep inside my heart

Alkisah ada seorang anak laki-laki yang hidup di sebuah kota yang tidak begitu maju. Dikatakan gak maju karena ga ada pabrik disitu, kecuali pabrik gula dan pabrik rokok. Si anak memiliki orang tua yang hidup sangat akrab dengan kerasnya dunia, sehingga dia pun ikut merasakan apa yang dirasakan orang tuanya.

Sang ayah adalah keturunan ke delapan dari keluarga kaya 7 turunan. Jadi bapak si ayah ini memiliki 5 orang istri (1 nya cerai), sehingga hartanya --sudah pasti-- habis dibagikan kepada sekian banyak anak2 dari sekian istri2nya. But, thanks God, para istri ini hidup berdampingan dengan tidak saling bermusuhan SEDIKITPUN. Dan anak2 dari istri2 tersebut juga hidup dengan sangat rukunnya. Believe me, ini bukan dongeng, tapi sebuah kenyataan, NYATA!!! Bahkan setelah salah satu dari istri2 tersebut meninggal (yang notabene adalah nenek sang anak), sang anak masi memiliki nenek2 yang mencintainya dan ia cintai.

Sang ibu adalah putri dari seorang laki2 yang pernah menjadi salah satu dari deretan laki2 kaya di desanya. Ya karena si laki2 ini pernah hidup sebagai orang 'jantan' menurut kebanyakan orang, habislah hartanya dan tidak ada yang terwariskan kepada putrinya maupun putranya.

Suami-istri ini harus hidup bersusah-susah, bekerja keras dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, membangun citra keluarga, mendidik anak. Intinya adalah mereka hidup susah, dan semuanya mereka dapatkan dengan bekerja keras, bukan dari warisan ataupun pemberian orangtuanya.

Inilah yang menjadikan si anak mendapatkan pendidikan yang SANGAT keras dari orang tuanya, terutama ibunya. Yang membuatnya lebih dekat dengan sang ayah. Karena menurutnya hanya ayahnya lah yang menyayanginya, menggendongnya, memanjakannya, mendengarkan keluh kesahnya, memberinya uang jajan, mengajarinya arti2 kehidupan. Sementara ibunya tak yang jahat tak segan2 memukulnya, ya MEMUKULNYA dengan pukulan yang benar2 sakit. Dalam hati ia katakan bahwa ibunya memang orang yang jahat, orang yang belum siap menjadi seorang ibu, ibu yang egois, ibu yang mungkin bukan ibu kandungnya. Selama masa kecilnya, fikiran2 itu selalu ia ulang2 layaknya stereotape dalam otaknya.

Kemudian, ketika si anak menginjak usia SMA, ada sebuah perubahan sikap yang drastis dari ibunya kepadanya, ya DRASTIS !!! (dan anda tidak salah mengartikan kata drastis). Ibunya tiba2 sangat sayang padanya, semua keperluannya dipenuhi ~tanpa diminta sekalipun~, dia tidak dilarang-larang lagi main atau keluar rumah lama2, tidak lagi disuruh ini itu. Saat itu si anak berfikir, "Ibuku telah sadar", menurutnya si ibu telah merenung dan menyadari bahwa sikapnya selama ini salah kepada anaknya dan ingin mulai memperbaiki hubungan dengan anaknya.

Si anak kemudian menikmati keadaan itu selama masa2 SMA nya. Begitu si anak beranjak ke usia kuliah, si anak baru menyadari bahwa anggapannya selama ini salah. Kini bukan ibunya yang sadar, tapi dirinya yang sadar bahwa si ibu tidak pernah merenung, si ibu tidak pernah berubah sikap karena menyesali apa yang telah ia lakukan, tapi dialah yang selama ini tidak menyadari bahwa itulah cara ibunya mencintainya.

Si ibu dan ayah telah menjadi aktor dan aktris yang ulung. Yang mampu memainkan peranannya dengan sangat sempurna. Sang ayah telah menjadi protagonis yang mengajarinya arti sebuah cinta, persahabatan, makna2 kehidupan, kehalusan. Sedang sang ibu ~mungkin dengan sangat berat hati~ menjadi antagonis yang mengajari sang anak makna kerasnya hidup, makna sulitnya mendapatkan sesuatu, bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, karena belum tentu yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Subhanalloh, saat itu sang anak ingin menangis setiap saat mengingat masa kecilnya dan bagaimana orang tuanya mendidiknya, bagaimana orang tuanya mencintainya dengan caranya.

Sungguh masa kecil yang indah, bukan karena permainan-permainan yang ia nikmati, bukan pula dengan teman2 masa kecil yang menyenangkan, tapi karena sebuah ingatan yang ingin selalu ia ingat sebagai pelajaran. Tiba2 dia sadar seperti sadarnya orang dari pingsan, yang tahu2 ada disebuah tempat yang aneh. Tempat dimana dia mendapatkan kedewasaan, pendidikan yang layak, tempat yang dia tuju dengan sangat mudah padahal teman2nya mendapatkannya dengan sangat susah. Ya... dia bisa mengecam pendidikan dari SD hingga kuliah dengan beasiswa. Tak hentinya dia berterimakasih pada ibunya karena apa yang telah dia ajarkan.

Mom, I LOVE U really really deep inside my heart. There is no word to describe how much I love U. Dad, I admire you deep inside my heart, anda telah menjadi teladan yang baik selama ini.

PS : Sang anak sekarang sedang sangat seringnya mendapat sms dari bapak dan ibunya ~horee ibunya bisa sms-an hehe~ mengenai banyak hal, bahkan yang 'tidak penting' sekalipun. Dan semuanya adalah sebuah sms yang sangat penting baginya, tanda bahwa ibunya ingin berbagi isi hati dengannya.

J · U · S · T · I · F · I · K · A · S · I

Setelah sekian lama bertapa di puncak gunung tertinggi dan menyelam di laut terdalam serta menyeberang laut terluas, ane jadi (sok) paham kalo ternyata manusia itu bertindak dikendalikan oleh persepsinya. Sebagaimana sebuah mesin ato hardware yang digerakkan oleh program atau softwarenya. Cabe itu kan pedas, dengan memahami kalo cabe itu pedas, orang gak akan serta merta makan cabe tanpa pengolahan khusus. Itulah contoh persepsi serta reaksinya terhadap persepsi tersebut.

Nah didunia ini ada sebuah fakta dan kebenaran yang nggak selalu sama dengan apa yang kita fikirkan. Sebuah fakta atau kebenaran ada begitu adanya, dan persepsi juga selalu ada tanpa diminta. Permasalahan muncul ketika persepsi dan fakta ini tidak bisa dipertemukan.

Beberapa orang mengubah persepsi terhadap informasi yang diperolehnya, menjadikannya asumsi dan meyakininya sebagai sebuah fakta/kebenaran Dari sini lahirlah sebuah justifikasi atau pembenaran terhadap informasi yang ia anggap sebagai sebuah kebenaran meski belum tentu informasi itu benar.

Dari sebuah justifikasi, tak jarang kita mendiskreditkan pihak lain. 911, bom kereta bawah tanah inggris, bom bali dsb adalah beberapa kejadian yang dengan gegabahnya disimpulkan sebagai sebuah terorisme oleh orang Islam. Ini contoh sebuah asumsi yang diyakini tanpa cek dan ricek, hanya karena sebelumnya santer berita mengenai terorisme di timur tengah. Dari situ, yang jadi jelek adalah orang Islam keseluruhan. Gileeeee, padahal ane kenal amrozi juga enggak, nek pesawat juga ga bisa, ngrakit bom apalagi, nyoder aja masi glagepan, kok dikait2in terorisme cmn karena saya muslim.

Orang cenderung enggan untuk mencari informasi dan memastikan informasi yang dia dengar adalah valid dan valid. So, ga heran orang lebih menikmati gosip daripada berita. Karena yang mereka butuhkan bukanlah kebenaran, tapi informasi yang bisa mereka telan mentah tanpa mau tau benar atau tidak.

Yasutralah, orang2 kolot juga nantinya mati2 sendiri. Mau kolot mau open-minded mati mati juga hehe. Dunia butuh orang2 yang smart yang mampu berfikir dan menelaah. Bukan orang yang membeo dan ngekor. Bukan pula orang yang seenaknya menjustifikasi orang lain padahal baru sekilas melihatnya.